Prospek sektor kesehatan setelah perubahan tarif dan skema JKN

JAKARTA – Sektor kesehatan akan merasakan dampak dari sistem KRIS (Kelas Rawat Inap Standar) yang mulai berlaku pada Juni 2025 mendatang, serta tarif iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang tengah dirumuskan.
Ismail Fakhri Suweleh dan Wilastita Muthia Sofi, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menilai sistem KRIS dan Coordination of Benefits (CoB) yang disiapkan pemerintah Indonesia, berpeluang meningkatkan pendapatan rumah sakit. “Namun terdapat risiko dalam eksekusi kebijakan pemerintah,” ungkap mereka.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga berencana mengganti skema pembayaran JKN ke rumah sakit, yang sebelumnya mengacu INA-CBG (Indonesian - Case Based Groups) menjadi iDRG (Indonesian Diagnoses Related Group). Kementerian Kesehatan menyebut skema ini akan mendukung penyediaan layanan yang lebih rinci, “sesuai karakteristik kasus pasien dan biaya kesehatan di Indonesia.”
Berdasarkan sejumlah pertimbangan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan peringkat overweight pada sektor kesehatan. “Karena profitabilitas rumah sakit di Indonesia terus meningkat dalam pasar yang belum cukup terlayani,” ungkap Ismail dan Wilasita dalam laporannya.
Sementara itu sejumlah emiten sektor kesehatan yang menjadi sorotan BRI Danareksa Sekuritas adalah PT Mitra Keluarga Tbk (MIKA), PT Siloam Internationals Hospitals Tbk (SILO), dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).
Saham dari ketiga emiten tersebut mendapat rekomendasi BUY, dengan target harga untuk MIKA Rp3.400, SILO Rp3.300, dan HEAL Rp2.000. (KR)