Menyambut lelang frekuensi 5G, saham emiten ini layak dikoleksi?

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berencana menggelar lelang frekuensi 2,6GHz dan 700MHz pada 2025 untuk mempercepat adaptasi jaringan 5G di Indonesia. Rencana ini diyakini jadi sinyal positif bagi investor untuk melirik saham emiten telekomunikasi.
Menurut laporan BRI Danareksa Sekuritas, yang baru saja mengadakan pertemuan dengan Komdigi, lelang frekuensi ini membuka peluang bagi operator seluler untuk memperluas cakupan layanan 5G mereka.
"Operator seluler kemungkinan akan lebih memprioritaskan frekuensi 2,6GHz guna memaksimalkan keunggulan 5G sebelum beralih ke 700MHz," tulis analis BRI Danareksa Sekuritas.
Percepatan jaringan 5G di Indonesia, diyakini akan jadi katalis positif bagi emiten telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Indosat Tbk (ISAT). "Perusahaan dengan strategi Fixed Mobile Convergence (FMC) yang kuat, akan mendapat manfaat besar dari spektrum baru ini," ungkap analis BRI Danareksa Sekuritas.
Meskipun demikian, operator seluler juga disebut menghadapi tantangan utama atas biaya spektrum yang tinggi. Namun Komdigi berencana menawarkan skema pembayaran fleksibel, untuk menekan beban operasional operator.
“Kami saat ini memberikan rekomendasi OW (Overweight) pada sektor telekomunikasi dan terus mengevaluasi risiko dari lelang spektrum yang akan datang,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas.
Selanjutnya, BRI Danareksa Sekuritas menyematkan rekomendasi BUY untuk saham TLKM, EXCL, dan ISAT. Target harga untuk saham TLKM yaitu Rp3.680 per lembar, EXCL Rp2.800 per lembar, dan ISAT Rp3.200 per lembar. (KR)