Pendanaan program 3 juta rumah jadi tekanan bagi bank BUMN

JAKARTA. Rencana Pemerintah Indonesia mewajibkan partisipasi bank pelat merah dalam program 3 juta rumah, berpotensi menekan kinerja sejumlah bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara).
Rencana itu sempat disampaikan oleh Hashim Djojohadikusumo, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perumahan, dalam agenda Economic Outlook di Jakarta, Rabu (26/2) kemarin. “Bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) mendukung dan saya dengar akan ada perintah untuk mendukung,” kata Hashim.
Namun Hashim menegaskan aturan ini masih dalam tahap pembahasan oleh sejumlah pengambil keputusan.
Menanggapi hal tersebut, Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas Digital, Edi Chandren, mengatakan Himbara berpotensi menghadapi ketidakpastian margin dan kualitas aset dari pembiayaan program ini.
Terutama bagi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), yang selama ini tidak berfokus pada pembiayaan perumahan rakyat seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
“Menurut kami, secara umum, ketidakpastian ini berpotensi menimbulkan sentimen negatif, setidaknya dalam jangka pendek,” ungkap Edi, dalam risetnya.
Meskipun demikian, Edi menekankan bahwa margin perbankan juga bergantung pada sejumlah faktor. Mulai dari suku bunga pembiayaan, skema pendanaan, dan cost of funds. Sedangkan kualitas asetnya akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti skema pembiayaan, tenor, dan seleksi debitur.
Menurut data IDNFinancials.com, harga saham BBRI ditutup melemah 4,97% pada perdagangan Kamis (27/2) kemarin. Sementara harga saham BMRI turun 5,28%, BBTN 0,56%, dan BBNI 0,23%. (KR)