BBCA - PT. Bank Central Asia Tbk

Rp 8.500

-25 (0%)

JAKARTA – Volatilitas pasar saham Indonesia berpotensi meningkat, dengan perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara seperti China dan Kanada, menurut analis.

Pada Selasa (4/3) kemarin, China telah mengumumkan tarif balasan 10-15% untuk produk impor dari AS, efektif mulai 10 Maret 2025. Ini merupakan tarif balasan China yang kedua, setelah mengenakan tarif 10% pada Februari kemarin.

Sebelumnya, AS juga telah mengenakan tambahan tarif 10% kepada China mulai Selasa. Hal ini membuat total tarif impor dari China mencapai 20%. Tidak hanya itu, AS juga telah menerapkan tarif impor 25% untuk Kanada dan Meksiko pada hari yang sama. Pihak Kanada telah menerapkan tarif balasan 25% untuk impor dari AS.

Presiden AS Donald Trump juga masih berencana menerapkan tarif impor untuk sejumlah komoditas spesifik seperti besi, aluminium, hingga mobil dan obat-obatan. Meskipun demikian, laporan Bloombergmenyebut rencana tarif terbaru Trump belum memiliki tenggat waktu yang jelas.

Analis Stockbit Sekuritas Digital menyebut eskalasi perang tarif itu kembali meningkatkan ketidakpastian global dan pemangkasan suku bunga. Berbagai tarif itu bahkan diperkirakan mendorong inflasi dan melemahkan kinerja ekspor AS.

“Kedua dinamika ini menjadi faktor yang akan memengaruhi arah suku bunga oleh The Fed,” tulis Analis Stockbit Sekuritas.

Di tengah ketidakpastian itu, Analis Stockbit Sekuritas juga melihat dampaknya terhadap volatilitas pasar modal Indonesia. Oleh karena itu, investor diharapkan mempertimbangkan instrumen pendapatan tetap jangka pendek seperti PBS003, yang menawarkan yield 6,37% per tahun dan tenor 2 tahun.

“Investor yang memiliki risk appetite yang lebih tinggi dapat mempertimbangkan saham berkualitas yang sedang terkoreksi, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA),” ungkap mereka. (KR)