Situasi global memanas, IHSG butuh katalis positif dari pasar domestik

JAKARTA – Ketidakpastian global kembali menjadi kekhawatiran bagi pelaku pasar modal, menyusul naiknya tensi dagang Amerika Serikat (AS) dan Kanada Selasa (11/3) kemarin, yang saling menekan tarif impor komoditas dari masing-masing negara.
Terbaru, AS mengancam tarif 50% untuk produk logam dari Kanada yang masuk ke AS. Kanada bersiap menaikkan 25% tarif listrik yang diekspor ke sejumlah negara bagian AS. Rencana balasan ini membuat pemerintah AS menangguhkan ancaman tarif 50%, namun tetap mengenakan tarif 25% untuk produk logam dari Kanada.
“Tak bisa dipungkiri kombinasi dari regional market dan segala sentimennya, ditambah berita dalam negeri yang tak kalah riuh rendahnya, membuat IHSG telah jalani trend penurunan jangka menengah, sejak peak pada September 2024, di level 7.900-an,” ungkap Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, kepada IDNFinancials.com hari ini.
Ketidakpastian itu, kata Liza, bahkan telah mendorong konsolidasi sejumlah negara yang gerah dengan ulah pemerintah AS. Di titik ekstrem, negara seperti Rusia, China, dan Iran bahkan telah menggelar latihan perang besar besaran di wilayah perairan Oman.
Di tengah ketegangan tersebut, Liza menyampaikan masih ada potensi penguatan IHSG pada penutupan kuartal pertama (Q1) 2025. Namun penguatan ini “butuh usaha keras bagi IHSG” untuk bertahan di atas 6.520-6.500, serta mendobrak area resistan MA20 yang berada di kisaran 6.630-6.700.
“Supaya ia lebih leluasa naik menuju area 6.880/7.000 lagi sebagai target Q1 (akhir bulan Maret 2025,” jelas Liza.
Meskipun demikian, Liza menegaskan potensi penguatan IHSG juga perlu dukungan dari berbagai faktor. Mulai dari redanya tensi geopolitik dan perang tarif, sentimen di pasar domestik, “serta penerapan GCG (Good Corporate Governance) demi menarik masuk investment,” ungkap Liza.
Dalam catatannya kepada investor yang disampaikan Selasa (11/3) kemarin, Liza juga memaparkan peluang IHSG bisa rebound ke 7.000 pada akhir Q1 tahun ini. Peluang ini akan didukung oleh fund manager yang memoles portofolio di akhir kuartal, hingga penguatan saham-saham big banks seperti BBRI hingga BBCA. (KR)