JAKARTA – Bersama Digital Data Centres (BDDC), anak perusahaan dari Bersama Digital Infrastructure Asia Pte Ltd (BDIA) yang bergerak di industri data centre, kini bertransformasi menjadi Digital Realty Bersama (DRB) setelah masuknya investor global dari Amerika Serikat (AS), Digital Realty.

Seiring kolaborasi ini, DRB menjadi perusahaan patungan (joint venture) dengan porsi kepemilikan BDIA dan Digital Realty masing-masing 50%.

Perlu diketahui, Digital Realty adalah penyedia layanan dan solusi pusat data, kolokasi, dan interkoneksi terbesar di dunia, dengan lebih dari 5.000 pelanggan global.

“Yang perlu digarisbawahi [dari kolaborasi ini] adalah keunggulan dari menjadi bagian dari sebuah jaringan,” ujar Alex Teo, SEA General Manager Digital Realty.

Dengan bergabungnya Digital Realty, DRB akan menjadi bagian dari jaringan dan ekosistem pusat data global, termasuk PlatformDIGITAL®, platform data center milik Digital Realty yang terhubung dengan lebih dari 300 fasilitas di 25 negara dan 6 benua.

DRB juga mendapat akses ke ServiceFabric™, layanan Digital Realty yang memungkinkan perusahaan lintas negara berinteraksi secara digital lewat situs-situs kolokasi milik grup Digital Realty.

Ke depannya, dengan mitra strategis barunya, DRB akan meningkatkan kapasitas data centre eksistingnya, JST1–yang kini disebut CGK11–dari 5 MW menjadi 32 MW. Peningkatan ini ditargetkan rampung dalam beberapa tahun ke depan.

“Saya rasa kurang lebih antara 1,5 sampai 2 tahun, untuk pembangunannya,” tambah Angelo Syailendra, Presiden Direktur DRB, saat ditemui di Konferensi Pers Peluncuran Digital Realty Bersama hari ini (18/3) di bilangan Senayan, Jakarta.

Meskipun nilai investasinya tidak disebutkan, Setyanto Hantoro, Wakil Presiden Komisaris DRB, menyebut untuk menambah kapasitas data centre 1 MW, membutuhkan dana sekitar US$11 juta. Dengan kata lain, tambahan kapasitas 27 MW diperkirakan akan menelan dana sekitar US$287 juta.

“[Sumber dana] kita sekarang ini kombinasi antara ekuitas dan pinjaman. Dari Digital Realty, karena mereka besar sekali di dunia, mereka punya akses ke bond market yang mungkin tidak terkalahkan,” ujar Angelo. (ZH/KR)