BBCA - PT. Bank Central Asia Tbk

Rp 8.500

-25 (0%)

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi sorotan setelah PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengumumkan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2018 Seri A senilai Rp435 miliar akan jatuh tempo pada 5 Juli 2025.

Obligasi dengan tenor 7 tahun dan tingkat bunga 7,75% ini memiliki peringkat idAA dari Pefindo, menandakan risiko investasi yang relatif rendah dan kepercayaan kuat terhadap kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya.

Pefindo, dalam rilisnya, dikutip Rabu (2/4), juga menyampaikan bahwa BBCA berencana melunasi surat utang yang jatuh tempo menggunakan dana internal. Per akhir Desember 2024, posisi kas perusahaan tercatat mencapai Rp45 triliun, termasuk penempatan dana di Bank Indonesia dan bank lain. Dengan likuiditas yang kuat ini, BBCA dinilai memiliki kapasitas yang sangat memadai untuk melunasi obligasi tepat waktu, sekaligus menjaga stabilitas keuangan perusahaan di tengah dinamika pasar.

Namun, penting bagi investor untuk memahami bahwa peringkat utang bukanlah rekomendasi investasi langsung. Peringkat mencerminkan pandangan Pefindo pada saat penilaian dan dapat berubah jika terjadi perkembangan material yang memengaruhi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Investor sebaiknya mempertimbangkan berbagai faktor seperti kondisi pasar, tren ekonomi, dan strategi perusahaan dalam mengambil keputusan investasi.

Pada penutupan perdagangan Kamis (27/3), harga saham BBCA turun 0,29% atau -25 poin ke level Rp8.500 per saham. Namun, harga saham dalam sepekan melonjak 2.72%, sementara dalam sebulan terakhir merosot 3.41%. (EF)