Trump mulai perang tarif, bursa saham Asia terguncang

JAKARTA – Pasar saham Asia mengalami koreksi tajam setelah Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS), mengumumkan kebijakan tarif impor universal sebesar 10% bagi semua negara, dengan tarif tambahan bervariasi hingga lebih dari 50% untuk Tiongkok dan mencapai 32% untuk Indonesia.
Dini hari tadi, Kamis (3/4), pukul 04.00 WIB, Trump menyatakan bahwa tarif baru diberlakukan sebagai respons terhadap ketidakseimbangan neraca dagang AS dengan lebih dari 60 negara. Pengumuman ini mengejutkan pasar karena jauh lebih agresif dari ekspektasi analis dan menandai perang dagang 2.0 yang lebih sengit.
Kondisi bursa saham Asia langsung terlihat hari ini;
- Indeks Nikkei 225 Jepang jatuh 2,77%,
- Indeks Shanghai Composite turun 0,2%,
- Hang Seng Hong Kong melemah 1,57%,
- Kospi Korea Selatan tergerus 0,76%, dipicu tarif impor 32% yang mengancam sektor semikonduktor dan manufaktur.
- BSE Sensex India sempat turun 0,29%,
- Indeks Ho Chi Minh Vietnam mencatat penurunan terbesar hingga 6,63% setelah terkena tarif 46%, menjadi salah satu yang terdampak paling parah di Asia Tenggara.
Di Asia Tenggara, Indonesia juga berada dalam posisi rentan dengan tarif baru sebesar 32%, sementara, Straits Times Index Singapura relatif stabil dengan penurunan hanya 0,03% karena terhindar dari tarif tinggi.
Selain pasar saham, mata uang Asia pun terpuruk. Baht Thailand mengalami pelemahan terdalam hingga 0,64%, disusul won Korea Selatan 0,55%, ringgit Malaysia 0,55%, yuan offshore 0,41%, dolar Singapura 0,13%, dan dolar Hong Kong 0,03%.
Rupiah offshore juga ikut tertekan, melemah 0,16% menjadi Rp16.760/US$. Perdagangan bursa keuangan domestik Indonesia masih libur dalam rangka perayaan Lebaran dan akan dibuka kembali pada 8 April 2025. Sementara itu, yen Jepang justru menguat tajam 0,76% terhadap dolar AS. (EF)