Bos MTDL Susanto Djaja: imbas rupiah lemah akan terlihat semester I
JAKARTA - PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) menilai imbas pelemahan rupiah (IDR) terhadap dollar Amerika Serikat (US$) saat ini akan terasa pada tiga bulan mendatang.
Hal itu disampaikan Susanto Djaja, Presiden Direktur MTDL, menyikapi pelemahan rupiah imbas Amerika Serikat (AS) yang menerapkan tarif timbal balik (reciprocal) produk impor pada Rabu (2/4).
"Apabila Rupiah melemah signifikan, maka akan berdampak kepada harga barang Information Technology (IT) dan smartphone tiga bulan ke depan," kata Susanto di Jakarta, Jumat (4/3).
Susanto menambahkan, pelemahan kurs rupiah secara konsisten akan menurunkan daya beli masyarakat. "Kalau pengaruh langsung (saat ini) belum terlihat. Sektor teknologi lebih terdampak apabila pelemahan rupiah," katanya.
Menurut Susanto, perusahaan tetap berpatokan pada strategi MTDL di lini bisnis distribusi dan bisnis solusi dan konsultasi, meski ekonomi global bergolak imbas perang tarif antara AS dan sejumlah negara mitra dagangnya.
"Di segmen bisnis distribusi sebagai far dominant di big vendor dan big reseller. Untuk bisnis solusi dan konsultasi; menjadi penyedia Data dan AI terbesar dalam tiga tahun mendatang, termasuk memperluas penetrasi ke Bank Buku 3 dan Buku 2 dengan mereplikasi keberhasilan solusi yang dipergunakan Bank Buku 4," katanya.
Sementara itu, MTDL telah menerapkan lindung nilai (hedging) untuk proyek perusahaan sebagai antisipasi kerugian kurs mata uang asing. "Pembelian laptop ke principle sudah dalam mata uang rupiah," katanya.
Sepanjang 2024, MTDL mengumpulkan pendapatan Rp25 triliun, tumbuh 13,9% dari Rp22,08 triliun di tahun 2023. Laba bersihnya naik 13,7% menjadi Rp739,8 miliar
Bisnis distribusi menyumbang pendapatan MTDL sebesar Rp19,6 triliun (+18,8%) dan Bisnis Solusi menyumbang Rp6,2 triliun, stabil dari tahun 2023.
Kurs rupiah turun ke level 16.776 pada perdagangan kemarin (3/4) siang, lebih rendah 0,33% dari sehari sebelumnya. Nilai tukar rupiah dan mata uang sejumlah negara di Asia terus turun usai Presiden Donald J Trump mengumumkan kebijakan tarif. (LK)