DUBLIN - JPMorgan Chase & Co menilai kebijakan tarif baru Donald Trump dapat memperbesar peluang resesi Amerika Serikat (AS) tahun ini, dari 40 persen menjadi 60 persen.

Menurut bank investasi terbesar tersebut, kenaikan tarif tidak hanya berpengaruh kepada negara mitra dagang, namun juga dapat berdampak buruk ke perekonomian AS.

Kepala Ekonom JP Morgan, Bruce Kasman, menjelaskan dalam catatan riset pada Kamis (3/4) bahwa hasil skenario probabilitas menunjukkan risiko resesi tahun ini naik menjadi 60% dari 40%.

"Kami menekankan bahwa kebijakan ini, jika terus berlanjut, kemungkinan akan mendorong AS dan perekonomian global ke dalam resesi tahun ini," tambah Kasman dikutip dari Newsweek.

Tarif Trump juga digambarkan oleh Kepala Ekonom JPMorgan lainnya, Michael Feroli, sebagai "kenaikan pajak terbesar" sejak Revenue and Expenditure Control Act 1968. Saat itu pajak tambahan sebesar 10 persen diberlakukan untuk pajak penghasilan individu dan perusahaan, dalam rangka menekan inflasi dan mengurangi defisit anggaran selama Perang Vietnam.

Pengumuman tarif yang disebut Trump sebagai ‘Hari Pembebasan’ itu telah berdampak luas bagi perekonomian China, Jepang, Uni Eropa, serta beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kebijakan tarif ini menjadi pelengkap terhadap tarif yang sebelumnya telah diberlakukan bagi mitra dagang utama Amerika Serikat, yaitu Kanada dan Meksiko. (LM/KR)