Rupiah anjlok menembus Rp17.006 per dolar AS

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus turun setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru, yang menyasar sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia, pada Rabu (2/4).
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (4/4), kontrak rupiah yang diperdagangkan di pasar luar negeri atau Non-Deliverable Forward (NDF) merosot ke level Rp17.006 per dolar AS, mencatatkan penurunan hingga 1,58% pada pukul 20.53 WIB.
Kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Trump diyakini dapat memperburuk kondisi nilai tukar rupiah.
Sebelumnya, seorang pengusaha yang bergerak di industri keuangan, menjelaskan bahwa negosiasi tarif 32% untuk ekspor Indonesia dengan AS memang perlu diteruskan, namun pemerintah harus fokus pada langkah cepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"IHSG menurun, dan rupiah pun ikut melemah. Yang lebih berbahaya adalah jika lembaga rating internasional seperti Moody's, S&P, atau Fitch menurunkan peringkat kredit Indonesia pada bulan Juni nanti," katanya.
Pengusaha tersebut menekankan pentingnya Indonesia menjaga nilai tukar rupiah, yang saat ini tertekan akibat ketidakpastian pasar global. Ia juga mengusulkan agar Presiden Prabowo memerintahkan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia untuk segera melobi negara-negara BRICS, terutama China.
"Jika Indonesia bisa membuka jalur kredit dengan China dan Jepang, meskipun peringkat kredit turun, rupiah masih bisa tetap terjaga," tambahnya.
Terkait dengan Surat Berharga Negara (SBN), pengusaha itu menyebutkan bahwa yang perlu dijaga adalah SBN yang dimiliki oleh investor asing, yang jumlahnya mencapai sekitar Rp883 triliun atau sekitar US$53 miliar.
"Jika Indonesia memiliki cadangan sekitar US$30 miliar dari China, kita tidak perlu khawatir meski terjadi penurunan peringkat kredit," ujarnya.
Terkait kontak dengan China, sumber yang dekat dengan Presiden Joko Widodo (saat masih menjabat) mengungkapkan bahwa Jokowi pernah menelepon Presiden China Xi Jinping sebanyak 2 kali.
"Sekitar tahun 2020 saat awal-awal Covid dan rupiah melemah, Jokowi langsung telepon Xi Jinping dua kali. Dan tanggapannya Xi Jinping juga positif,” ungkapnya. (DK/KR)