JAKARTA – Perhitungan tarif resiprokal yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjadi sorotan, karena ikut menghantam sejumlah negara kecil di Afrika Selatan. 

Ekonom dan penulis buku The Words of Wisdom, James Surowiecki, melakukan reverse-engineering untuk mengetahui potensi perhitungan tarif yang diumumkan presiden Trump. Ia menemukan bahwa tarif tersebut dihasilkan dari nilai defisit perdagangan AS dengan negara mitra dagang, lalu membaginya dengan total ekspor negara tersebut ke AS.

Hasilnya kemudian dibagi dua, untuk menemukan tarif resiprokal yang didiskon.

Gedung Putih telah mengonfirmasi perhitungan tarif resiprokal. Namun Politico menyebut perhitungan tarif Gedung Putih adalah formula yang disempurnakan dari versi Surowiecky.

Dalam unggahan X pribadinya, Surowiecky menyebut perhitungan tarif AS sebagai “kebijakan omong kosong.”

Spekulasi di media sosial bahkan menyebut formulasi tarif AS menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI). Sejumlah pihak bahkan membuktikan bahwa sejumlah platform AI seperti Gemini dan ChatGPT, menghasilkan formulasi yang mirip dengan tarif yang diumumkan oleh presiden Trump.

Sementara itu Gedung Putih menyangkal dugaan yang beredar di platform X, bahwa pemerintah memakai bantuan teknologi AI untuk perumusan tarif tersebut.

Lebih lanjut, Gedung Putih mengaku siap membeberkan perhitungan dan formulasi tarif, meskipun waktunya belum jelas. (KR)