
Bayan Resources akan bagikan dividen tunai US$300 juta
01 Jul 2024 20:32
PT Bayan Resources Tbk (BYAN), emiten tambang batu bara milik Low Tuck Kwong, akan membagikan dividen tunai sebesar US$300 juta atau US$0,009 per saham.
01 Jul 2024 20:32
PT Bayan Resources Tbk (BYAN), emiten tambang batu bara milik Low Tuck Kwong, akan membagikan dividen tunai sebesar US$300 juta atau US$0,009 per saham.
01 Jul 2024 15:08
Selasa (25/6), perusahaan tambang tembaga dan emas PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyambut investor asing SAJIR 9 LLC sebagai investor barunya. Tidak tanggung-tanggung, investor ini langsung mencaplok 4,18 miliar lembar saham yang setara dengan kepemilikan 5,77% saham.
11 Jun 2024 10:49
Perusahaan asing yang berbasis di Kepulauan Virgin Britania Raya, Reliancever Holdings Inc, menanam modal hingga 2,49 miliar lembar saham di PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP), Rabu (5/6). Reliancever pun menjadi pemegang 5,85% saham terbaru di perusahaan jasa keuangan tersebut setelah melakukan transaksi melalui PT MNC Sekuritas.
31 May 2024 18:35
Kenaikan saham yang dicatat oleh PT Ragam Venturindo sebagai imbas stock split PT Asuransi Ramayana Tbk (ASRM) mengawali petunjuk pasar pada Selasa (28/5). Investor ini merupakan pemilik 10,57% saham ASRM, namun stock split 1:4 yang dilancarakan oleh emiten asuransi kerugian ini membuat jumlah saham yang dimiliki Ragam Venturindo naik dari 32 juta ke sekitar 128 juta lembar.
29 May 2024 15:51
PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) membukukan laba tertinggi di kuartal pertama (Q1) 2024 di antara empat emiten batu bara dengan market capitalization (market cap) di atas Rp60 triliun per kemarin (28/5). Kinerja emiten ini mengungguli PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebagai market cap tertinggi di segmen ini.
07 May 2024 09:17
PT Bayan Resources Tbk (BYAN), emiten tambang batu bara milik Low Tuck Kwong, mencetak laba bersih sebesar US$210,64 juta sepanjang kuartal pertama (Q1) 2024.
23 Mar 2024 13:17
Setelah melepas 60 juta saham emiten media dan penyiaran PT Global Mediacom Tbk (BMTR) pada hari bursa sebelumnya, PT. MNC Asia Holding Tbk justru membeli lagi saham dengan jumlah yang sama pada Senin (18/3). Emiten induk tersebut difasilitasi oleh PT MNC Sekuritas, dan kini kembali memegang sekitar 36,38% BMTR. Induk perusahaan lainnya, PT. Sinar Mas Cakrawala, juga belanja saham anak perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan, yaitu PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) sebanyak 2,15 juta lembar.
14 Mar 2024 20:35
Pemegang saham mayoritas PT Bank BTPN Tbk (BTPN), yaitu Sumitomo Mitsui Banking Corporation – Equity, mencaplok 2,29 miliar lembar saham bank devisa tersebut pada Jumat (8/3). Sebelumnya, SMBC telah memegang sekitar 88,52% saham BTPN, tapi transaksi terbaru ini membuat kepemilikannya melonjak ke 91,06%. Belanja saham ini difasilitasi oleh PT Bank HSBC Indonesia. Selanjutnya, pemegang saham pengendali emiten batubara, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), yaitu Low Tuck Kwong, memborong 173,02 juta lembar saham BYAN. Investor individu ini pun melihat kenaikan kepemilikan dari 61,61% ke 62,12% di dalam protfolionya.
29 Feb 2024 15:12
PT Majukarya Mandiri Indonesia memutuskan untuk menanam saham baru di dua emiten berbeda pada Selasa (27/2). Pertama, investor ini belanja saham PT Estee Gold Feet Tbk (EURO), yang memproduksi kosmetik dan perlengkapan rumah tangga, sebanyak 161,37 juta lembar. Belanja yang dilakukan melalui tiga perusahaan sekuritas ini memberikannya kendali sebesar 6,33%. Selanjutnya, investor ini juga membeli 62,18 juta saham PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA), sebuah perusahaan jasa konsultasi sektor pertambangan dan energi, yang setara dengan 6,22% kepemilikan. Transaksi ini dilakukan melalui empat perusahaan sekuritas yang berbeda.
20 Feb 2024 12:33
PT Kreasi Jasa Persada baru saja membeli 342.925.700 lembar saham PT Petrosea Tbk (PTRO) melalui PT Henan Putihrai Sekuritas, pada Jumat (16/2). Belanja tersebut menghadiahkan kendali sebesar 34% atas emiten pertambangan dan infrastruktur migas tersebut. Sebaliknya, pemegang saham pengendali PTRO, PT Caraka Reksa Optima, justru menjual saham dengan volume yang sama, sehinggi kepemilikannya pun turun dari 68,9% ke 34,9%.